Konvensi Nasional Humas 2015

Menegaskan Eksistensi PR

Menegaskan Eksistensi PR

Jakarta, BUMNInsight.co.id - Sedemikian pentingkah informasi? Jawabannya bukan masalah penting atau tidak penting, namun seberapa akurat informasi itu. Dalam era kekinian seorang Public Relations (PR) hingga harus mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. 

Di era keterbukaan seperti sekarang ini, seorang PR memang harus bisa menjadi mediator, dalam arti harus bisa menyampaikan informasi yang diharapkan masyarakat, termasuk dalam hal penyampaian informasi kepada public

Saat ini, keterbukaan informasi publik penting dilakukan karena sudah diatur dalam Undang-Undang (UU). "Seorang PR harus memiliki kepercayaan dan integritas. Integritas adalah input bagi PR dan output nya adalah trust," kata Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP), Henny S. Widyaningsih dalam Konvensi Nasional Humas 2015 di Jakarta, baru-baru ini. 

Dalam UU Keterbukaan disebutkan bahwa setiap warga negara dijamin haknya untuk mengetahui informasi publik. Hak untuk mengetahui tersebut termasuk untuk melindungi hak konsumen. “Jadi semua orang bebas untuk menanyakan informasi kepada pejabat publik. Karena itu sebagai humas kita harus memperjuangkan KIP,” jelasnya. 

Namun demikian, Henny mengingatkan informasi pribadi tidak boleh diungkap. Hanya saja, untuk pejabat itu boleh dilakukan. Dalam kaitan ini terdapat ayat yang mengharuskan mereka untuk membuka informasi tersebut, tetapi bagi pengusaha swasta justru informasi tersebut dilindungi kerahasiaannya. “Oleh karena itu, sebagai seorang PR harus mengetahui mana informasi yang perlu diumumkan atau dibuka dan mana yang tidak boleh untuk dibuka atau sifatnya tertutup,” ujarnya. 

Joachim Wessling, CEO Allianz menjelaskan, dalam mengkomunikasikan produk, praktisi PR harus mampu melakukan presentasi dan mampu membuat presentasi yang baik. Di Allianz, seorang PR dituntut untuk bisa membangun pengertian antara perusahaan dan publik. “Ketika suatu perusahaan memiliki isu atau krisis. Kita perlu memahami cara membuat atau meyakinkan janji kita terhadap perusahaan,” kata Wessling. 

Perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang harus membangun kepercayaan, khusus etik kepada para pelanggan. Kunci keberhasilan Allianz yang memiliki 147.000 karyawan, adalah menegakkan reputasi. Disini perusahaan harus membangun hubungan yang baik dengan media.

“Pekerjaan media adalah membuat atau menyampaikan berita menarik dan bagus agar mampu meningkatkan kepercayaan para partner potensial. Berbagai keuntungan perusahaan dengan membantu orang lain atau masyarakat sekitar mampu meningkatkan keuntungan kita.” 

Suryopratomo, News Director of Metro TV punya pandangan sendiri, bahwa persoalan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini tidak terlepas dari krisis yang terjadi tahun 2008 yang terjadi di Amerika. Ini karena Amerika Serikat merupakan negara adikuasa sehingga yang terjadi dan dialami negara tersebut bisa berdampak terhadap negara-negara lain. 

Disini lain, federalisme sekarang ini belum mampu mengubah peraturan karena perekonomian yang bersifat fluktuatif. Itu juga berdampak bagi Indonesia sehingga dalam beberapa mengalami penurunan ekonomi karena terjadinya perlambatan ekspor dan impor. "Krisis global berpengaruh terhadap krisis dalam negeri," ujarnya.

Lantas bagaimana cara kita untuk meningkatkan konsumsi di Indonesia? Agar perusahaan tetap survive, kita harus membuat kualitas produk yang baik dan pelayanan yang baik, sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat. Selain itu, tantangan sekarang ini adalah bagaimana cara membangun kepercayaan oleh media. Sekali kita tidak memiliki kredibilitas maka orang tidak akan percaya kepada kita. Karena itu diperlukan profesionalisme.” 

 

Penulis: Wahyu Utomo
newsportal@bumninsight.co.id