Rudiyanto - Direktur Utama PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI-Persero)

Siapa Bilang Klas Asing Lebih Baik

Siapa Bilang Klas Asing Lebih Baik

Foto: BUMN Insight/Nick Hanoatubun

BUMN Insight, The CEO - Dari sebuah kedai kopi yang menjadi tempat favorit berkumpulnya para pelaut dan pemilik kapal di tahun 1760-an. Lahir ide dari Edward Lloyd untuk melakukan pencatatan (registrasi) terhadap kapal-kapal yang pemiliknya sering berkumpul di kedai kopi miliknya. Dari kegiatan registrasi tersebut, akhirnya berkembang pemikiran untuk membentuknya menjadi badan usaha klasifikasi atau lembaga registrasi kapal yang di kemudian hari bernama Lloyd’s Register of Shipping (LRS).

LRS menginpirasi tumbuhnya badan klasifikasi kapal di berbabagi negara. Beberapa badan klasifikasi kapal di berbagai negara tersebut kemudian membentuk asosiasi tersendiri. Alasan dasarnya, klasifikasi kapal tidak hanya diperuntukkan dan digunakan oleh kapal-kapal dalam pelayaran dalam negeri, tetapi juga agar diterima berlayar atau beroperasi di negara lain.

Dari sinilah lahir asosiasi internasional yang disebut International Association Classification Society (IACS) yang merupakan salah satu anggota komite teknis dari IMO. Indonesia memiliki PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang menjalankan tugas mengklaskan kapal niaga berbendera Indonesia dan kapal berbendera asing yang secara reguler beroperasi di perairan Indonesia.

Walau sudah mandatory, tapi keberadaan klas asing sering dibenturkan dengan keberadaan BKI sebagai klasifikasi nasional. “Ini adalah kepentingan bisnis, sedangkan PT Biro Klasifikasi Indonesia menjaga kepentingan nasional,” ungkap Rudiyanto Dirut PT BKI. Kepada Tim BUMN Insight, Rudi menuturkan perihal klas asing dan progress BKI menjadi anggota IACS. Berikut kutipannya:

Bagaimana keberadaan sertifikasi asing menurut Anda?
Kalau ada klasifikasi asing datang ke indonesia, mereka datang tentu saja bukan tanpa tujuan. Biasanya alasan mereka karena ada kapal mereka di Indonesia dan mereka melakukan klasifikasi. Namun menurut saya disisi lain terdapat kepentingan bisnis.

Kenapa kepentingan bisnis?
Karena mereka tahu posisi strategis Indoenesia sebagai poros maritim, sehingga Indonesia menjadi target market untuk mereka, Indonesia target market buat mereka. Kita sebagai klasifikasi nasional tentunya mengharapkan prefensi nasional karena kita juga menjaga kepentingan nasional di situ. Parahnya lagi, klasifikasi asing ini masuk biasaya menggunakan orang-orang eks BKI atau orang BKI yang mereka bajak.

Apa keunggulan mereka?
Mereka sudah memiliki usia ratusan tahun, Ada yang 150 tahun bahkan 200 tahun sedangkan BKI baru 50 tahun. Itulah yang menyebabkan persepsi masyarakat maritim Klasifikasi Asing SLA dan metodologi-nya lebih baik dari BKI karena sudah berpengalamanan ratusan tahun . Namun yang pasti pada saat mereka seusia dengan BKI merekapun mendapat kesempatan dan preferensi dari negaranya sampai dengan poisisi saat ini.

Jadi untuk membesarkan BKI diperlukan support dari semua pihak di negara kita untuk menjadi unggul seperti mereka. BKI tidak perlu menjalani 150 atau 200 tahun untuk menjadi besar, kita bisa belajar dari pengalaman tersebut untuk menjadi besar dengan dukungan semua pihak. Ini alasan kenapa kita terus melakukan internalisasi, melakukan perbaikan SLA untuk mengubah persepsi tadi bahwa kita tidak kalah dengan kelas asing. Kita cuma mengharapkan preferen si nasional dari negara bukan proteksi, karena ada national interest yang harus kita penuhi.

BKI sedang berusaha menjadi anggota International Association Classification society (IACs)?
IACS saat ini terdiri atas 13 anggota di seluruh dunia. BKI sudah mendaftar ke sana. Jika dibandingkan dengan anggota IACS, BKI masih lebih besar dibandingkan Polandia, Kroasia, dan beberapa negara lain. Lebih besar karena BKI melakukan klasifikasi lebih banyak. Saat ini kita sedang proses menuju ke sana, cuma jangan dibenturkan bahwa asing lebih baik dari lokal.

BKI harus diberi kesempatan dan dukungan agar punya pengalaman untuk kepentingan nasional. Sangat ironis, Indonesia memiliki tanker terbesar di dunia atau platform terbesar di dunia, namun BKI sebagai klas nasional tidak memiliki kesempatan untuk mendapat pengalaman menjadi badan klas sejak awal, karena biasanya pemilik kapal yang membuat kapalnya di luar negeri menunjuk klas asing, BKI baru dilibatkan menjadi klas pada saat kapal sudah jadi dan akan masuk ke perairan indonesia sekaligus mengganti bendera indonesia.

Hal ini penting karena dunia klas tidak memiliki sekolah khusus kelas, sehingga pengetahuan dan pengalaman di dapat oleh seorang surveyor pada saat dia melakukan pengawasan sejak awal kapal dibangun. BKI tidak bisa mengirim personilnya ke Shipbuilder Company karena akan ditanyakan kepentingan dan fungsinya sebagai apa? Karena merekapun pasti ada unsur confideality yang harus dijaga. Sehingga kalaupun BKI harus Dual Klas dengan Klas Asing tidak menjadi masalah, karena BKI bisa memiliki pengalaman yang berharga.

Untuk itulah kita membutuhkan support. Sinergi BUMN bisa menjadi salah satu faktor pendukung, misalnya kita berterimakasih pada PLN melalui Bahtera Adiguna yang mempercayakan BKI untuk sejak awal melakukan pengawasan pembuatan Mini CNG Carrier pertama di dunia, yang tentunya pengalaman tersebut akan sangat diharapkan oleh Komunitas Klas.

Sejauh mana progress menuju anggota IACs?
IACS itu mempersyaratkan quality system berbasis ISO 9000 yang disertifikasi oleh badan sertifikasi yang diakui oleh mereka. Saat ini BKI sudah bersertifikat ISO 9000 yang disertifikasi oleh BSI (British Standard Institute) yang diakui oleh mereka. Berikutnya mereka akan melakukan audit yang dilakukan oleh tim IACS. Kalau ini sudah dipenuhi, BKI bisa menjadi anggota IACS. Setahun ini kita sudah melakukan persiapan untuk kesesuaian quality management system yang di- persyaratkan oleh IACS. BKI sedang dalam proses ini.

Berapa waktu yang dibutuhkan untuk proses tersebut?
Harapan kita dalam setahun ini, maksimal dua tahun kita sudah dapat menjadi anggota IACS. Perlu juga diketahui bahwa secara aklamasi untuk tahun 2015 ini saya mewakili BKI telah menjadi Ketua ACS (Asian Classification Society) yang memiliki visi menguatkan “Asian Voice” dalam konteks Maritim Dunia dan ACS memiliki semangat Growing Together untuk para anggotanya. BKI adalah founder ACS bersama 5 Badan Klasifikasi Asia lainnya, dan saat ini sudah banyak Badan Klasifikasi ingin menjadi anggota ACS, diharapkan bisa memperkuat posisi tawar BKI

Begitu pentingnya menjadi anggota IACs, bukannya di sana banyak unsur politiknya juga?
Kalau bukan karena business driven, kita lakukan ini untuk perceive driven. Kalau kita tidak IACS nanti banyak kapal kita diklasifikasikan oleh klas asing. Kalau kita jadi IACS, mereka bisa masuk ke klas BKI. Kami mensinyalir kadang-kadang mereka menggunakan strategi IACS tapi tidak IACS, hal ini bisa dilihat walaupun mereka menyatakan anggota IACS namun kadang dalam sertifikatnya menyatakan dalam lingkup referensinya adalah not under IACS requirement. Kembali ini bisa menjadi suatu masukan untuk IACS

Harapan Anda kepada pemerintah?
Kami memahami, BKI secara teknis mungkin ada kekurangan. Kita sedang melakukan perbaikan dengan meningkatkan SLA dan SDM, tolong dibantu. BKI sekarang sedang membentuk kultur baru, agar lebih professional melakukan pelayanan. BKI punya upaya membentuk BKI Academy yang memiliki fokus development kompetensi ke internal dan eksternal, menunjukkan penguatan kita sebagai klasifikasi. Berikan kita kesempatan, bukan proteksi tapi preferensi. Obsesi saya, dalam lima tahun sisi komersil menjadi pilar BKI. Sehingga BKI menjadi komponen yang diperhitungkan dalam dunia maritim.

 

Penulis: Tim BUMN Insight
Wawancara Eksklusif Rudiyanto, Direktur Utama PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI-Persero)