M. Arif Wibowo - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Jurus Arif Agar Garuda Kompetitif

Jurus Arif Agar Garuda Kompetitif

Foto: BUMN Insight/Nick Hanoatubun

BUMN Insight, Jakarta - Setelah didapuk menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. M Arif Wibowo harus segera menyingsingkan lengan baju.Tak ada waktu untuk berleha-leha, karena ia memimpin maskapai flag carrier of Indonesia itu dalam kondisi sulit. Arif siap membawa Garuda bermanuver dari posisi descend ke climbing. Setelah terbang rendah di tahun 2014 karena makro ekonomi yang tidak bersahabat, juga siap menghadapi turbulensi untuk terbang tinggi. Kepada julianto dari BUMN Insight, ia menuturkan rencana dan obsesinya.

Bagaimana kondisi garuda saat ini dan apa tantangan ke depan?
Semua tahu, kondisi Garuda merugi di tahun lalu. Ke depan karena perusahaan ini merupakan perusahaan besar, perlu ditangani dengan lebih baik lagi. Garuda menghadapi tantangan yang masih harus dilalui, tidak hanya turbulensi tapi juga masih ada strong headwin (arah angin dari depan).

Kalau sekadar tailwin (angin dari belakang) dan crosswin (arah angin dari samping) masih oke, fuel bisa lebih irit dan lebih ringan membawa pesawat. Ini ada headwin yang besar. Selain itu, fluktuasi harga bahan bakar serta depresiasi rupiah masih menghantui.

Bagaimana Anda mengantisipasinya?
Posisi Garuda saat ini secara operasional dan finansial perlu recover, kalau tidak, ini menyangkut sustainability Garuda itu sendiri. Kalau dilihat dari 10 tahun lalu, ini adalah titik terendah, diawali dari tahun 2012. Namun demikian, ekspansi tetap diperlukan. Dalam situasi turbulensi ini kecepatan berekspansi kita tahan dulu, tapi tetap harus tumbuh karena kalau tidak tumbuh, market share Garuda akan tergerus.

Market share model akan berpengaruh pada profitability, profitability akan berpengaruh kepada sustainability atau keberlangsungan perusahaan. Maka dari itu di tahun pertama 2015 ini, terutama quartal I dan quartal II sangat kritis, karena kita harus pastikan operational ecxellent harus mendukung operating cashflow Garuda.

Untuk itu kita melakukan operational excellent mulai dari network yang sangat efektif kepada pasar, strategi deployment pesawat baik besar atau kecil, dan dalam level tertentu kita akan melakukan adjusment dari segi kapasitas, dan frekwensi penerbangan yang kita laksanakan. Garuda tetap tumbuh dengan kecepatan yang aman, ke dalam kita melakukan effort yang sangat kencang. Kita berada dalam crisis mode.

Krisis ini kita ciptakan agar setiap orang tahu indikator-indikator apa untuk dikatakan krisis. Ini akan mendorong semangat karyawan Garuda untuk rebound lagi. Hal ini harus kita lakukan karena Garuda harus tetap tumbuh dan eksis di pasar, tidak hanya domestik, tapi juga regional dan internasional. Ini prioritas kita jangka pendek, karena ini menyangkut kelangsungan hidup Garuda ke depan.

Apa yang harus diperhatikan?
Kita akan fokus kepada tiga hal. Pertama, peningkatan revenue generator. Garuda harus benar-benar bekerja dengan baik dan maksimal.

Kedua, penataan cost driver. Semua aktivitas yang mengakibatkan munculnya biaya perlu direstruktur, tanpa mengubah bisnis model Garuda. Full service carrier adalah business model yang kita deliver kepada costumer. Tingkat layanan, tingkat kualitas harus kita pertahankan, tetapi cost structure harus diturunkan.

Ketiga, dalam menghadapi turbulensi dan strong headwin ke depan yang masih uncertain, keuangan Garuda, kita coba atur ulang, sekaligus kita upayakan program-program refinancing. Upaya ini tidak sekadar menyelamatkan Garuda tetapi ujung-ujungnya adalah operational excellent. Operational excellent itu tidak hanya ontime saja, tapi juga comercial excellent-nya harus jalan. Ini yang kita harus bereskan mulai saat ini.

Apa yang menjadi kekuatan garuda untuk terus tumbuh?
Prestasi yang sudah ditorehkan selama ini seperti Maskapai Bintang Lima, World’s Best Cabin Crew, dan prestasi lainnya menjadi modal kekuatan kita.
Garuda sebenarnya di domestik dan regional sangat kuat, kita sedang memulai ekspansi di internasional.

Di internasional itu masih menjadi faktor penentu kesuksesan Garuda sebagai global player. Ini yang mejadi key point kita. Kekuatan sebagai flag carrier of Indonesia, Garuda adalah ikon bangsa Indonesia. Semestinya dengan semua komponenkomponen kekuatan itu, pasar yang ada di Indonesia harus berpihak kepada kita saat kita akan terbang ke internasional.

Kalau untuk domestik, no doubt-lah, semua sudah tahu Garuda. Tapi internasional persaingannya sangat buas. Di dunia internasional itu kita menghadapi pesaingpesaing incumbent, mereka sudah lama menjadi bintang lima di posisinya. Mereka sudah puluhan tahun mejadi bintang lima sedangkan Garuda baru tahun ini.

Apa yang menjadi kunci penyelamatan garuda ke depan?
Dua hal yang harus kita manage dengan baik supaya bisa melewati masa sulit. Masa ini adalah sesuatu yang luar biasa dan harus kita cover dengan cepat. Pertama, saya tegaskan bisnis model tidak berubah, size tidak berkurang tapi kecepatan tumbuhnya dikurangi, armada Garuda pun masih akan bertambah, ada penambahan 15 pesawat di tahun ini. tapi hal ini sudah dilakukan adjusment terhadap situasi dan kondisi yang ada di tahun ini.

Jadi tahun ini kita akan melakukan langkah – langkah “quickwins”. Yang pertama adalah adjusment beberapa rute-rute yang bleeding. Kita juga mengekplorasi pasarpasar yang berpotensi besar tapi masih membutuhkan kapasitas yang lebih banyak. Contoh pasar umroh, pasar turis dari Tiongkok.

Kita melakukan realokasi bleeding route tetapi ditempatkan di potential route yang selama ini belum kita garap. Selain itu kita juga mengurangi rute yang kita anggap over capacity seperti Tokyo yang awalnya double daily menjadi single daily, tapi secara presence Garuda di sana tetap. Kita melakukan adjusment yang terkontrol, jangan sampai membuat sinyal-sinyal negatif.

Bagaimana dengan rute domestik?
Untuk domestik kita akan perkuat lagi wilayah timur, karena Garuda masih membutuhkan penguatan di rute-rute pengumpan, dengan basis pesawat propeller. Kita akan menambah banyak rute-rute baru di wilayah timur yang sangat potensial tapi belum digarap dengan baik oleh Garuda. Deployment pesawat propeller ke wilayah timur mulai dari Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Rute-rute by pass juga kita tambah juga.

Rute-rute by pass kita buka untuk betul-betul melihat pasar point to point itu potensinya ada. Kita tetap melihat ini dalam rangka mengembangkan rute domestik, mengembangkan market share, ujungnya mendapat profit yang lebih besar. Di domestik kita akan perkuat di rute-rute pengumpan, ATR atau Garuda Explore menjadi senjata kita untuk masuk ke rute-rute tersebut

(Jul)