Diding S. Anwar - Direkur Utama Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo)

Jemput Bola Demi UMKMK

Jemput Bola Demi UMKMK

Foto: BUMNInsight.co.id/Nick Hanoatubun

The CEO, BUMNInsight.co.id - Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK) terbukti mampu menjadi buffer atas ekses yang timbul dari krisis ekonomi. Dengan jumlah sekitar 50 juta unit, UMKMK ibarat jutaan payung yang melindungi masyarakat Indonesia dari terpaan dampak krisis yang lebih parah. Lebih dari itu, UMKMK juga memberi kontribusi penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Dua peran strategis itu akan semakin instrumental manakala Indonesia memasuki era pasar bebas dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam konteks itulah, peran dan fungsi Perum Jamkrindo menjadi amat penting. “UMKMK itu umumnya feasible tapi belum bankable,” ucap Diding S. Anwar, Direktur Utama Perum Jamkrindo. Kepada Martina Prianti dari BUMN Insight, Diding menuturkan rencana strategis dan impian Perum Jamkrindo, dalam sebuah wawancara di penghujung Januari lalu. Berikut petikannya:

Apa rencana aksi Perum Jamkrindo pada tahun ini?
Ada sejumlah rencana yang akan di jalankan pada tahun ini, antara lain; pertama, kami akan lebih pro-aktif namun masih dalam konteks menjalankan peran Perum Jamkrindo. Rencananya, kami akan membuat layanan keliling melalui mobil mulai tahun ini. Sebagai pilot project, minimal akan ada lima hingga 10 mobil yang akan disebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur. Saya memandang, kita harus “jemput bola” dan mencari terobosan agar UMKMK berhasil, misalnya mengenai manajemen keuangan dan pemasaran. Untuk itulah, kami akan hadir guna menyediakan konsultasi atau asistensi bagi UMKMK. Kedua, kami akan mengembangkan bisnis dengan mengoptimalkan aset yang kami miliki, khususnya mengoptimalkan tanah di Bandung. Untuk itu, kami akan menjalin kerja sama dengan BUMN karya. Tapi belum diputuskan apa akan membangun hotel, apartemen, atau perkantoran. Di luar rencana-rencana itu, kami juga berencana menambah kantor unit layanan, mengembangkan produk-produk baru sesuai dengan keinginan mitra. Tapi yang terpenting, kami akan selalu berupaya menciptakan service excellence pada mitra.

Strategi untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut?
Dari sisi korporasi, kami akan menyempurnakan organisasi yang sesuai dengan tuntutan bisnis. Kami juga akan meningkatan kualitas dan penambahan sumber daya manusia agar lebih kompetitif melalui pelatihan yang terpadu dan terarah yang berkesinambungan. Sementara pada operasional kami akan memperluas jaringan pelayanan dengan pembukaan kantor cabang baru dalam rangka peningkatan pelayanan penjaminan. Saat yang bersamaan, saya akan mendorong pemanfaatan teknologi informasi yang efektif dengan melaksanakan proses permohonan penjaminan secara online, dan menerapkan manajemen risiko, serta melakukan penyempurnaan secara berkelanjutan. Pada sisi keuangan, kami akan melakukan optimalisasi portofolio investasi, optimalisasi pengelolaan dana dengan menjalankan pengelolaan dana (arus kas) yang terintegrasi di seluruh unit kerja.

Tantangan yang dihadapi Jamkrindo?
Kalau melihat data kementerian teknis, potensi UMKMK itu sekitar 50 juta lebih tapi masih banyak yang belum disentuh oleh perbankan. Inilah yang menurut saya tantangan pertama kami. Sementara dari sisi manajemen, saya membagi tantangan ke dalam dua hal. Pertama dari sisi operasional, jaringan pelayanan yang masih terbatas di tingkat provinsi, dan adanya gap antara penyaluran kredit oleh bank pelaksana dengan data penyaluran kredit yang dijamin oleh perusahaan penjamin. Kedua dari sisi korporasi, peningkatan bisnis yang cepat belum diimbangi dengan kuantitas sumber daya manusia, dan dari sisi kualitas perlu ditingkatkan dalam rangka pelayanan.

Dana yang diperoleh dari PMN untuk apa?
Kami berencana menggunakannya untuk meningkatkan peran Jamkrindo selaku lembaga penjaminan kredit bagi UMKMK. Rencana lainnya, memperkuat modal dan meningkatkan kapasitas penjaminan Jamkrindo, serta memperluas jangkauan pelayanan. Dengan demikian diharapkan semakin banyak kredit UMKMK yang dapat dijamin oleh Perum Jamkrindo. Di sisi lain, Perum Jamkrindo akan bertambah sehat dan kuat sehingga mampu mendukung berjalannya sistem penjaminan kredit bagi UMKMK.

Bagaimana penerapan GCG di Jamkrindo?
Selain menjalankan penugasan, kami merasa harus menjalankan tata kelola yang baik. Sekalipun Perum, kami mengelola secara modern termasuk dalam hal menjaga penerapan GCG dengan konsisten dan berkomitmen tinggi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan telah ditetapkannya Surat Keputusan Bersama Direksi dan Dewan Pengawas Perum Jamkrindo Nomor 88/ Kep-Dir/XII/2012KEP-06/DP-JAMKRINDO/XII/2012 tanggal 3 Desember 2012 mengenai pedoman GCG. Di antaranya mengatur GCG code, code of conduct, board manual direksi dan Dewan Pengawas yang seluruhnya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mengacu kepada prinsip-prinsip GCG. Selanjutnya pada 2014, Perum Jamkrindo menyempurnakan whistle blowing system dalam satu dokumen tersendiri yang terpisah dari pedoman GCG code. Langkah selanjutnya, dengan kelengkapan GCG yang telah dimiliki maka dilakukan sosialisasi GCG secara berkala kepada seluruh pegawai. Saat bersamaan, juga dilakukan evaluasi dan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan.

Kesiapan UMKMK menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN?
UMKMK di Indonesia sangat potensial akan tetapi tetap harus meningkatkan beberapa hal agar dapat bersaing menghadapi MEA. Saya melihat masih ada beberapa kelemahan dari mereka, antara lain pertama, UMKMK mampu menghasilkan produk yang bagus tetapi tidak dikemas secara bagus sehingga kurang menarik konsumen dan kurang memiliki daya jual. Kedua, UMKMK masih kurang sadar pentingya serfitikasi dan standarisasi mutu sehingga produk yang dihasilkan kurang memiliki standard produk. Ketiga, masing-masing daerah harus memiliki produk andalan seperti di Thailand ada OTOP: One Tamboon One Product, satu kabupaten satu kompetensi inti, sehingga mendorong spesialisasi dan kekhasan suatu daerah. Jika semua itu dapat berjalan, maka akan memacu sinergi dengan kegiatan pariwisata untuk mendatangkan wisatawan ke daerah tersebut.

Bagaimana peran Jamkrindo mengatasi hal itu?
Perum Jamkrindo sebagai BUMN yang mendapatkan tugas dari pemerintah memberikan penjaminan kepada UMKMK, berperan memberikan dukungan khususnya mengakses sumber pembiayaan. Kalau selama ini pembiayaan terkonsentrasi ke jasa dan perdagangan, untuk mendorong sektor produksi dan penambahan nilai tambah bagi mereka, Jamkrindo bisa meningkatkan coverage penjaminannya. Tujuannya memberikan tambahan keyakinan kepada bank atau lembaga non bank. Menghadapi MEA, kuncinya adalah kualitas produk dan kemampuan UMKMK kita harus tangguh, unggul daya saing, dan dukungan stakeholder UMKMK dalam hal ini para pembina teknis dari pemerintah daerah dan pemerintah lainnya juga perlu semakin baik. Bila ini semua ada, maka kesempatan bisnis juga terbuka luas.

 

Penulis: Tim BUMN Insight
Wawancara Eksklusif dengan Diding S. Anwar, Direktur Utama Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo)