Harga Gas Relatif Tinggi

Harga Gas Relatif Tinggi

Foto: BUMN Insight/Nick Hanoatubun

Jakarta, BUMNInsight.co.id-Direktur Utama Pupuk Indonesia, Aas Asikin Idat meminta pemerintah menurunkan harga gas bagi industri pupuk nasional agar mendekati harga gas internasional. Saat ini harga gas masih relatif tinggi pada kisaran US$ 6,2 - 6,3 per MMBTU. 

“Harga  gas idealnya pada kisaran US$ 3 per million British Thermal Units (MMBTU). Ini sangat memberatkan ongkos produksi pabrik pupuk. Harga pupuk di sejumlah negara berkisar US$ 1-3 per MMBTU, dengan harga internasional saat ini berkisar US$ 200 per ton,” katanya kepada wartawan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (16/10).

Menurutnyaprodusen pupuk di luar negeri tidak membuat mereka rugi jika harga pupuk turun, namun bagi Pupuk Indonesia sangat berat karena biaya operasi yang masih tinggi akibat belum turunya harga gas. Untuk itu, Pupuk Indonesia akan sulit bersaing apalagi sejumlah pabrik pupuk miliknya sudah berusia tua.

"Gas itu 70 persen komponen dalam struktur biaya, kalau gas tinggi biaya subsidi juga akan tinggi. Pupuk Indonesia terus berupaya untuk mengoperasikan pabrik sebaik-baiknya agar lebih efisien. Kami mengusahakan pabrik bisa berproduksi sesuai kapasitas terpasang, termasuk mengganti bahan bakar pabrik dari gas ke batubara," ujarnya.

Saat ini Pupuk Indonesia melakukan revitalisasi pabrik yang sudah tua seperti di Pupuk Kalimantan dan Kujang maupun membangun pabrik baru dengan teknologi yang penggunaan energi lebih efisien. Total produksi Pupuk Indonesia pada 2017 mencapai 11,2 juta ton, terdiri atas pupuk urea sekitar 7 juta ton, NPK 3 juta ton, ZA 790.000 ton.